This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Religion » Christian  

RSS
.

Apakah Anda Bahagia Hari Ini?

Saturday, 01.23.2010, 07:07pm (GMT-5)



Apakah Anda Bahagia Hari Ini?

 SMS masuk dari seorang teman yang sudah sekian lama tak ada kabarnya. "Apa kabar, Di? Lagi ngapain aja? Udah married?". Aku tersenyum, kubalas "Baik, semua biasa, masih berjuang, belum settle down. Anak kamu umur berapa sekarang? Sibuk ngapain aja?". Dia membalas " Anak gw udah 5 bln, gak bisa diam, mulai ngoceh melulu. Gw bosan banget di rumah, nih, nanti anak udah gedean mau cari kerja aja." Temanku tadi menikah dengan seorang pengusaha yang cukup berhasil di Jakarta, jadi begitu menikah mereka langsung punya rumah baru, ada kendaraan, dan suaminya mencukupi semua kebutuhannya. Dilihat dari fotonya, suaminya pasti orang yang cukup baik dan sabar. Kupikir dia pasti cukup bahagia, tapi dia bilang bosan karena tak ada kegiatan. Tanda tanya di hatiku, kenapa dia bisa merasa bosan alias kurang bahagia?

 Pikiranku masih mempertanyakan hal ini sewaktu seseorang yang dekat denganku memberitahu bahwa mantan kekasihnya menghubunginya lagi setelah 5 tahun menikah dengan orang lain. Mereka chatting dan mantan kekasihnya menangis karena perkawinannya tidak bahagia. Sama seperti temanku yang pertama, suami wanita ini juga mapan secara keuangan. Rumah ada, mobil baru, uang cukup, istrinya tidak perlu bekerja sehingga sempat chatting dengan mantan kekasihnya di siang bolong. Wanita ini menangis karena suaminya kurang perhatian dan sering membiarkan dia pergi sendirian di berbagai kegiatan. Begitu sulitnya untuk menjadi bahagia?

 Dan email dari temanku yang lain membuatku tambah bingung. Dia sudah 4 tahun menikah, mereka punya anak umur 3 tahun. Suaminya hanya pegawai rendahan dengan pangkat 6P=Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas-Pasan. Jadi teman yang ini harus turut bekerja membanting tulang untuk membantu membayar kontrak rumah, uang sekolah anak, dll. Dia mengeluh karena tiap bulan selalu stress memikirkan anggaran dan mereka tidak bisa menabung untuk masa depan anak. Mereka tiap hari sibuk bekerja sampai tidak punya cukup waktu bermain dengan anaknya. Bahkan dia menyesal karena dulu tidak menikah dengan mantan pacarnya yang lebih kaya. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Seandainya dulu dia menikah dengan mantan pacarnya yang kaya, apakah posisi dia sekarang akan jadi seperti 2 cerita pertama dia atas? Dia juga akan menangis tapi karena sebab lain mungkin.

Tiba-tiba aku bersyukur karena aku belum menikah, dan aku bisa menarik pelajaran dari mereka yang sudah dalam pernikahan. Saat ini aku baru sadar mengapa Tuhan dulu membatalkan pernikahanku yang sudah di ambang pintu 6 tahun yang lalu. Tuhan tahu aku belum siap saat itu, dan kalau Dia membiarkan aku melangkah maka aku juga akan menangis seperti salah satu orang di atas.
Aku bukan orang yang bijaksana, yang bisa memberi nasihat buat mereka yang saat ini tidak bahagia dengan pernikahannya. Tapi aku terpikir, kalau aku mengenalkan mereka bertiga, dan mereka bisa saling bertukar cerita, mungkin mereka masing-masing akan lebih bahagia dengan keadaanya. Yang berkecukupan secara materi bisa bersyukur mereka tidak usah membanting tulang untuk sekedar melewati hari, mereka bisa bersyukur punya waktu lebih dari cukup untuk bermain dengan anaknya. Temanku yang pas-pasan secara materi bisa merasa beruntung bahwa suaminya selalu mengantar-jemput dia dari tempat kerja dengan motornya sekalipun dalam hujan badai karena berarti suaminya peduli dan meluangkan waktu untuk dia.

Aku menyesal kadang mempersalahkan Tuhan saat aku tidak bahagia, karena ternyata semua orang punya beban masing-masing. Mudah untuk berpikir keadaan orang lain lebih baik bila kita hanya melihat dari sudut pandang sendiri. Rumput tetangga selalu lebih hijau, kan? Tapi kalau kita melihat berbagai kisah nyata ketidak bahagiaan seperti di atas, mungkin mata kita lebih terbuka.

Sumber ketidak bahagiaan adalah rasa ketidak puasan dan tidak bersyukur. Kalau saat ini kita masih punya atap di atas kepala kita, sekalipun rumah kontrakan, hei, bukankah kita lebih beruntung daripada gelandangan yang harus dikejar-kejar kamtib cuma untuk sekedar tidur di emper toko? Kalau saat ini kita punya suami yang kurang perhatian, coba baca kisah nyata 'horor' di Poskota tentang suami yang membacok istri sendiri cuma karena minta uang belanja? Anak anda nakal luar biasa dan bikin pusing sepanjang hari? Hei, aku punya teman yang sudah menikah hampir 10 tahun dan mereka sudah menghabiskan uang puluhan juta untuk program bayi tabung. Aku malu pada diri sendiri setelah mendengar kisah-kisah ketidak bahagiaan orang lain. Malu karena aku selalu berpikir aku orang paling tidak bahagia karena Tuhan tidak pernah memberiku cukup, tidak cukup uang, tidak cukup waktu, pacar tidak cukup perhatian. Ternyata aku tidak bahagia hanya karena aku tidak pernah puas.

Kebahagiaan sempurna jaraknya cuma selangkah dari kita. Kita akan bahagia saat kita melihat apa yang kita sudah miliki, bukan apa yang tidak kita punya. Dan jangan mencari-cari kebahagiaan dari sesuatu yang kita pikir bisa membuat kita bahagia, karena percayalah, pada saat anda meraihnya nanti, akan ada hal lain yang membuat anda tidak bahagia. Kuncinya adalah diri anda, bukan keadaan.
Tuhan ingin anda bahagia, maka Dia menghadirkan anda ke dunia ini yang penuh warna. Bukan dunia yang sempurna, tapi perpaduan warna-warni itu yang Tuhan ingin supaya kita jadikan alat untuk memperindah hidup kita. Tersenyumlah hari ini, masalah anda bukan yang terberat. Berpikirlah tentang semua yang anda miliki, bukan apa yang anda tidak miliki, maka anda bisa mulai berbahagia.

Special thanks to my dear friends for sharing your stories.

Picture Source : www.photobucket.com



Verdiana Lin





Related Articles:
Innkeeper of Bethlehem
Christmas Guests
Is Getting Angry A Sin?
Dealing with Temptation
Prayer for a Sick Friend
Coping with Fear
Guess Who's Coming To Dinner
The Smell of Rain