Pluralisme Pluralisme berasal dari bahasa inggris, pluralism. Definisi
pluralism adalah :
"In
the social sciences, pluralism is a framework of interaction in which
groups show sufficient respect and tolerance of each other, that they
fruitfully coexist and interact without conflict or assimilation."
Atau dalam bahasa Indonesia :
"Suatu kerangka interaksi yg mana setiap
kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain,
berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan)."
(Wikipedia)
"Interaksi antar kelompok dengan rasa hormat dan toleran itu kuncinya!
Interaksi
antar kelompok dengan rasa hormat dan toleran itu kuncinya! Dengan
begitu timbul saling rasa saling menghargai dan hidup berdampingan.
Antar kelompok; juga mengandung arti kemajemukan. Kemajemukan dalam
golongan, sosial, agama, ras, dan sebagainya. Jadi sikap rasa hormat
dan toleran itu bisa diartikan sebagai berikut:
yang kaya menghargai si miskin, partai A menghargai partai B, agama A menghargai agama B dan sebagainya; dan sebagainya. Dan
sungguh disayangkan, kita hanya sibuk mengurusi masalah
pluralisme
dalam hal Agama! Dan lebih disayangkan lagi, kita bahkan lebih sibuk
mengurusi dan berdebat tentang agama dan ulama-ulama kita sendiri. Sayang sekali ...
Dalam konteks
saling menghargai itu, pluralisme diharapkan mampu saling menghargai
perbedaan setiap golongan. Nilai-nilai yang ada atau sudah ada dalam
suatu kelompok atau golongan, bukanlah dirubah atau disesuaikan agar
semua sama; tetapi menghargai keragaman itu agar tercipta toleransi.
"Pluralisme
bukanlah upaya membangun pemahaman yang sama terhadap perbedaan
kelompok, dan bukan pula membangun identitas yang sama terhadap
"keunikan" suatu kelompok.
Pluralisme itu sudah ada sebelum para Pluralis "berteriak" ... so, mau apa lagi? Indonesia
sejak dulu aman sejahtera. Tak ada kekerasan antar kelompok, apalagi
agama. Lihat saja bagaimana Indonesia dulu terkenal sebagai negara yang
penduduknya ramah, terkenal sebagai "tuan rumah" yang menghargai
"tamunya" (bahkan tanpa prasangka akan menjadi penjajah). Dengan
gugusan pulau-pulau, dengan berbagai suku dan bahasa, itulah
pluralisme!Dan pluralime di Indonesia sudah ada sebelum negara kapitalis "mengotak-atik" dengan membawa bendera
liberalisme, modernisasi,
humanisme dan
demokrasi. Sehingga dimulailah era "persaingan" antar kelompok, antar individu. Bendera
"kapitalisasi" dikibarkan,
SIAPA YANG KUAT, DIALAH YANG MENANG! maka
berusahalah jadi pemenang! agar tidak menjadi "pecundang". Sebab,
seorang kaya bisa menjadikan orang miskin sebagai budak. Orang kuat,
bisa berkuasa atas yang lemah. Orang "tampan" bisa mengejek si "jelek".
Dan mereka tetap berteriak atas nama PLURALISME!
"Dan pluralime di Indonesia sudah ada sebelum negara kapitalis "mengotak-atik" dengan membawa bendera liberalisme, modernisasi, humanisme dan demokrasi.
Pembelokan arti pluralisme sebagai bentuk "non pluralisme"Terlalu
aneh rasanya kaum pluralisme bicara tentang pluralisme hanya berkutik
masalah pluralisme agama. Dan ujung-ujungnya apa lagi (dan ini lebih
aneh lagi) adalah gugatan terhadap agama yang hak, gugatan terhadap
ayat-ayat Al-Qur'an dan pembalikan pemahaman tentang pluralisme. Ayat
demi ayat, fasih mereka lantunkan untuk menguatkan pandangan mereka.
Dan pembutaan terhadap ketegasan larangan untuk mencampurkan yang hak
dan batil diabaikan. Dengan kedok sebagai muslim, mereka mengusung
panji-panji kafir, memuji ke liberalisme-an Barat, atau membela
ke -sadisan Yahudi!
Persamaan semua agama, semua agama diakui
kebenarannya, adalah dokrin yang mereka bawa. Sehingga dengan dokrin
itu, siapapun boleh berbaur dalam ibadah agama lain. Dan setiap orang
harus menghormati dengan mengucapkan selamat (baca: salam). Tidak
kurang, setiap orang boleh membuat agama baru yang diyakininya karena
semua agama tujuannya sama.
Lantas mereka menjadikan diri garda
terdepan mendorong umat untuk mengucapkan salam kepada kaum kafir.
Mereka juga menjadi tameng hidup terhadap kelompok yang menodai agama
Islam. Mereka juga mendukung peringatan-peringatan hari raya besar umat
lain. Mereka racuni umat ini dengan paham-paham yang
"ngaco" demi kepentingan entah siapa; yang pasti bukan kepentingan Islam.
"Mereka meniscayakan ke "khasan" (baca: kebenaran) Islam, untuk kemudian mencampur adukannya sehingga menjadi tidak "khas" (baca:bathil)
Pencucian otak ala kaum pluralis adalah bentuk
non pluralisme
agar umat mencampur-baurkan ajaran agama mereka. Mereka meniscayakan ke
"khasan" (baca: kebenaran) Islam, untuk kemudian mengakui mencampur
adukannya sehingga menjadi tidak "khas" (baca:bathil), hal yang
sesungguhnya tidak pernah terjadi pada kaum pluralis di Kristen, Budha
maupun Hindu sekalipun! Maka sangat wajarlah jika mereka diragukan
lahir sebagai benih-benih Muslim yang baik. Begitu juga sangat wajar
pula jika mereka diragukan lahir sebagai benih-benih pluralis "murni".
Tentang omong kosong itu!Islam
dan Indonesia telah membuktikan pluralisme-nya. Mereka menghargai
perbedaan antar kelompok, antar kebudayaan dan antar agama. Dan Islam
tidak pernah memaksa orang masuk ke dalam Islam. "Untukmu agamamu,
untukku agamaku". Dan sejarah telah membuktikan betapa orang-orang
yahudi dan nasrani hidup damai dalam pemerintahan Islam.
لَا
إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ
يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ
بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang
ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:256)
Lalu
model pluralisme yang bagaimana yang mereka inginkan? Lihat
dinegara-negara yang sering mereka (kaum pluralis) contohkan (dan mereka banggakan). Dimana entitas muslim minoritas yang
tidak terganggu kebebasan nya? Tolong sebutkan! Bahkan minoritas muslim
di negara-negara mayoritas non muslim tidak diperbolehkan untuk
menggunakan jilbab, menunjukkan identitas ke-muslimannya, dan diperangi
dengan cara yang kejam. Kejadian itu terjadi di Amerika, Prancis,
Belanda, Australia, Thailand, India, serta berbagai deretan panjang yang tidak
akan ada habisnya. Itukah pluralisme yang mereka maksudkan?
Ditambah
lagi penghinaan dan penistaan Nabi Muhammad
Salallahu alaihi wasalaam,
simbol-simbol Islam, Al-Qur'an dan ajaran Islam dalam bentuk-bentuk
kartun, film-film, buku-buku, forum di internet dan bentuk pelecehan
lainnya.
Islam, telah mencatat sebagai agama yang mengakui
pluralisme. Dan rakyat Indonesia; yang mayoritas Islam, juga telah
mengakui pluralisme. Kesimpulannya, ide Pluralisme yang mereka bawa
cuma sekedar
omong kosong!