This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Kirana (Bagian 9)

Monday, 01.25.2010, 11:53am (GMT-5)


Your Ad Here

KIRANA (Bagian 9)

Udara di ruangan ini menjadi hangat oleh emosi yang mulai meluap-luap.

Penyidik kemudian melanjutkan bahwa tidak pernah ada laporan polisi atas kecelakaan tunggal di Ngantang pada tanggal 10 Februari. Tidak ditemukan juga data pasien dengan kasus mirip Kirana di beberapa rumah sakit di sekitar Malang. Herlambang tidak bisa memberikan argumentasi lagi.

Setelah mobil ditemukan di Jember, polisi menunjukkan foto Kirana kepada Imran. Pria itu menyebutkan bahwa wanita yang menitipkan mobil itu tidak sama dengan yang ada di dalam foto. Wanita itu jauh lebih tua dan bertubuh besar.

Semua perhatian tertuju pada Inang Dayu yang duduk tegak. Wajahnya datar saja, tidak menunjukkan emosi apa pun. Tetapi, Herlambang juga kelihatan tidak setenang semula.

Penyidik menoleh pada Kapten Prayoga dan memberikan kode lewat anggukan kepala. Kapten Prayoga menyuruh anak buahnya membawa Kirana masuk. Atmosfer ruangan ini makin panas. Kami melihat Kirana didorong masuk dengan mengenakan kursi roda. Ia ditemani seorang tenaga medis dan seorang polisi. Ia tersenyum padaku dan Suster Meida.

Kirana duduk menghadap Inang Dayu, Herlambang, dan Adrian. Ia kelihatan sangat rapuh dengan tubuh kurusnya. Kesan bingung dan ketakutan tampak jelas di wajahnya yang kurus. Penyidik bertanya pada Kirana apakah ia mengenal mereka bertiga. Ia lalu menjawab hanya mengenali Herlambang dan Inang Dayu, tetapi tidak dengan Adrian. Penyidik memintanya untuk mengingat-ingat lagi tentang Adrian. Namun, makin didesak, Kirana justru menunjukkan kegelisahan yang membuatku dan Suster Meida berdiri otomatis.

“Tidak usah ditanyakan lagi, Pak. Dia sama sekali bukan Kirana,” tiba-tiba Adrian membuka suara yang mengejutkan kami semua.

Wajah Herlambang memucat.

“Maksud Anda, Saudara Adrian?” penyidik menegaskan.

“Dia memang mirip sekali dengannya. Tetapi, saya tidak merasakan emosi yang sama jika saya melihatnya.” Jawaban itu memerahkan telinga Herlambang yang berusaha menahan dirinya yang gemetar oleh kemarahan. Tangannya mengepal kuat pada jok sofa.

“Cobalah periksa punggung sebelah kiri bawah, ada tahi lalatnya.”

Itu sangat mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi, ketika Herlambang terbang melewati meja, lalu menyambar Adrian di seberangnya. Dalam sekejap ia sudah memukuli pria itu, yang segera dilerai oleh penyidik dan Kapten Prayoga. Kirana yang ketakutan segera dibawa keluar oleh perawat agar tidak histeris di dalam. Aku dan Suster Meida berpegangan tangan di sudut ruangan dengan gemetar. Adrian tidak melawan. Hidungnya bocor oleh pukulan Herlambang. Kapten Prayoga memberinya tisu untuk menyumbatnya.

“Kau kurang ajar! Kau bawa ke mana dia, hah?!”

Pertanyaan itu memperjelas bahwa wanita yang dibawa masuk tadi memang bukan Kirana. Kemarahan Herlambang memuncak karena Adrian mengetahui pasti letak tahi lalat Kirana. Itu berarti hubungan keduanya sudah jauh dari sekadar guru dan murid yang belajar melukis. Pertanyaan itu juga sekaligus membuka sandiwara Herlambang.

Adrian mengusap hidungnya yang berdarah.

“Mengapa tak tanyakan pada orang terakhir yang bersamanya?”

Kami semua memperhatikan Inang Dayu. Kali ini wanita itu tidak setenang pada awal penyidikan. Wajahnya makin pucat, tubuhnya menjadi gemetar.

“Inang, di mana Sang Dewi berada?” Herlambang bertanya, kepada wanita yang diam membisu seperti batu itu.
Sang Dewi, begitu tinggi sebutan sayang bagi wanita itu. Inang Dayu tetap pada pendiriannya untuk membungkam keberadaan Kirana, bahkan ketika para penyidik mencecarnya dengan tekanan yang sangat intimidatif. Ia masih tetap pada sikapnya. Duduk tegak, mulut terkatup rapat dengan garis kuat memucat. Keringat berpendaran di dahinya, pundaknya naik-turun dengan getaran yang kelihatan ia tahan.

Ia bisa shock sewaktu-waktu. Mengingat usianya yang kutaksir melewati 50 tahun, pastilah tidak mudah baginya untuk berada dalam tekanan seperti sekarang. Terlebih, kesaksian pria dari Jember yang menyebutkan ciri-ciri wanita yang menitipkan mobil sport itu mirip sekali dengan Inang Dayu.

Suster Meida bangkit dari kursi. Kami semua memperhatikan bagaimana ia membawa teh dalam kemasan yang belum diminumnya, untuk diberikan kepada Inang Dayu. Dengan kelembutannya, ia selalu berhasil membujuk sekeras apa pun hati pasien yang pernah kutahu. Tak terkecuali Inang Dayu. Dengan gemetar ia menerima minuman itu. Suster Meida berlutut di sisinya, memegangi tangannya agar ia bisa minum dengan tenang.

“Sedikit-sedikit dulu, Inang. Pelan-pelan saja agar tidak menyakiti tenggorokanmu.”

Entah karena kata-kata lembut Suster Meida yang telah membujuknya, atau aliran air teh yang dingin itu memberikan efek sejuk dan tenang, kami perlahan melihat perubahan pada diri Inang Dayu. Ia masih diam lama memegangi minuman di tangannya dengan pandangan kosong. Kami menunggu, dan menunggu. Kami yakin, pada akhirnya wanita ini akan membuka mulut.

Suara azan salat Asar terdengar lembut mengumandang dari kejauhan. Mengingatkan kami bahwa sudah lebih dari setengah hari kami bersitegang di dalam ruangan ini. Suara azan itu begitu melangutkan hati. Memanggil nurani untuk kembali kepada kebenaran hakiki.

Selang beberapa lama setelah azan berlalu, terdengarlah pengakuan itu.

“Dia berada di tempat yang selalu diinginkannya. Kalian tak perlu mencarinya lagi,” suara itu kedengaran parau.
Kami saling memandang. Tempat yang selalu diinginkan Kirana?

“Di mana itu, Inang? Apakah di Bima?” Herlambang menyebutkan kota di Pulau Sumbawa itu. Menurut kabar, Inang Dayu berasal dari sana. Dan mungkin, Kirana juga berasal dari sana.

Inang Dayu diam saja. Ia menunduk makin dalam.

“Inang, tolonglah. Beri tahu aku di mana Sang Dewi berada.”

Adrian menghela napasnya dalam-dalam.

“Inang, kita semua sudah lelah di sini. Cobalah untuk mengerti bahwa....”

“Kau tak pantas bicara seperti itu di depanku. Kau telah membuatnya menjadi seorang anak pembohong, kurang ajar, bahkan istri yang tercela!” Inang Dayu memotong perkataannya, tanpa mengangkat wajahnya.

Wajah Adrian memerah. Ia kemudian menunduk mengetahui kami semua memperhatikannya.

“Inang, katakan saja, di mana Ibu Kirana berada?” Kapten Prayoga bertanya, namun tetap tidak mendapat jawaban.


Bersambung

Penulis: Shanty D. Rilmira
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2008

Sumber : www.femina-online.com
Yani Thamrin





Related Articles:
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)
Kirana (Bagian 6)
Kirana (Bagian 5)
Kirana (Bagian 4)
Kirana (Bagian 3)
Kirana (Bagian 2)
Kirana