This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Kirana (Bagian 10)

Monday, 01.25.2010, 11:56am (GMT-5)


Your Ad Here

KIRANA (Bagian 10)

“Apa yang membuatmu bersikukuh seperti ini? Kau tahu, alibimu lemah. Dan, jika saksi Imran dihadirkan di sini sekarang, pasti dengan mudah ia menunjukmu sebagai orang yang menitipkan mobil padanya. Kau bisa dituduh menggelapkan barang milik orang lain yang dinyatakan hilang. Kau bisa dikenai hukuman kurungan. Apakah kau tidak takut itu, Inang? penyidik pertama mulai mengintimidasi lagi.

Inang Dayu tetap menunduk.

“Teori klasik. Menghilangkan nyawa untuk mendapatkan harta.”

Sekalipun baru sekadar teori dan sebuah kemungkinan, pernyataan penyidik itu demikian tegas, menyentak hati kami.

“Bukankah demikian, Inang?” penyidik itu terus mencecarnya.

“Tidak begitu...!”

“Oh, tentu saja! Kau membunuhnya, membuang mayatnya di suatu tempat. Kau curi mobilnya, lalu kau buat cerita itu adalah sebuah kecelakaan, sehingga kami semua berpikir bahwa....”

“Itu memang kecelakaan!”

Rasanya kami semua ambles ke dalam sebuah kubangan lumpur yang dingin. Adrian terduduk lemas di kursinya, sementara Herlambang tampak pucat gemetaran. Penyidik itu menarik napasnya dalam-dalam, tak mengeluarkan kata-kata.

Kemudian terdengar isak tangis Inang Dayu memenuhi ruangan, memecah keresahan yang menyekap kami lebih dari setengah hari ini. Suster Meida, sekalipun tampak terkejut, kembali menenangkannya dengan kata-kata yang lembut. Aku masih terdiam tak percaya dengan kisah ini. Sungguh luar biasa. Jadi, wanita itu, Kirana, benar-benar sudah mati?

“Aku tidak sengaja... dia ingin pergi terus mengikuti pria itu.... Kau seharusnya tidak meninggalkannya, Tuan.”
Herlambang kelihatan terpukul. Ia terenyak di kursinya dengan wajah bingung seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi, Inang, di manakah kau menyimpannya?” penyidik itu melanjutkan tugasnya. Kali ini, suaranya jauh lebih rendah, sekalipun tetap dalam tekanan yang sama.

Tangisan Inang Dayu makin menjadi dan mulai tidak terkendali karena luapan emosi. Keadaan Inang Dayu tidak memungkinkan untuk dicecar pertanyaan lebih lanjut. Mendadak aku ingat sesuatu yang sering diutarakan oleh Kirana yang lain.

“Kalau saya tidak salah, Kirana berada tidak jauh dari kita semua,” kuberanikan diri mengutarakan pendapatku.
Semua orang mengalihkan perhatiannya padaku.

“Di mana menurut perkiraanmu?” Kapten Prayoga menatapku.

Aku menelan ludah.

“Di sana, di Telaga Sumberpodang. Ia tenggelam bersama bayinya. Bukankah begitu, Inang?”

Inang Dayu mengangkat wajahnya. Ia kemudian menoleh padaku dengan ekspresi yang sungguh memelas. Tiba-tiba ia pingsan.

Minggu, 24 Agustus 2008, pukul 07.00
Kabut yang turun menyelimuti Desa Sumberpodang masih mengapung tipis di udara yang dingin. Namun, suasana di sekitar Telaga Sumberpodang sudah diramaikan oleh masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung proses pengangkatan mayat wanita nomor satu di desa ini, Kirana Chandradewi. Mereka bahkan sudah mulai berdatangan sejak sehabis subuh tadi, seakan tidak ingin melewatkan sejarah bagi desa mereka ini.

Begitu penuhnya perhatian masyarakat, sehingga polisi terpaksa membuat garis polisi untuk membatasi mereka, agar tidak menyeruak makin ke tepi. Hal ini dilakukan agar tim SAR dan kepolisian dapat melakukan tugasnya tanpa gangguan.

Herlambang tidak tampak di kerumunan massa. Ia sedang dimintai keterangan seputar keberadaan wanita sakit yang diakuinya sebagai Kirana. Polisi menduga ia sengaja telah memalsukan identitas seseorang, memberikan keterangan palsu, dan membahayakan nyawa seseorang dengan sengaja memberikan obat-obatan tanpa didampingi petugas medis.

Teori sementara yang kuperoleh dari Kapten Prayoga yang memimpin pencarian ini, sungguh mengejutkan. Bahwa antara Herlambang dan Inang Dayu tidak ditemukan adanya konspirasi. Hanya beberapa kebetulan saja membuat masing-masing mengembangkan cerita demi kepentingan mereka sendiri.

Malam sebelumnya, Inang Dayu menceritakan semuanya kepada Suster Meida yang didampingi oleh seorang penyidik yang bertugas menulis kesaksian. Bahwa pada malam nahas itu, keduanya bertengkar hebat. Kirana bersikeras akan menyusul Adrian yang menunggunya di stasiun kereta api Malang. Inang Dayu berusaha mengingatkan dan meyakinkan Kirana bahwa apa yang dilakukannya adalah salah.

Kirana mengatakan tidak bisa tinggal bersama Herlambang, karena ia telah jatuh hati kepada Adrian. Ia sudah menyerahkan diri padanya. Dan, yang membuat kemarahan Inang Dayu memuncak adalah ketika mendengar pengakuan bahwa Kirana tengah mengandung janin hasil perselingkuhannya dengan Adrian. Itulah mengapa ia ingin menyusul Adrian pergi, apa pun risiko yang akan dihadapinya.

Marah, malu, sakit hati, bercampur di dalam diri Inang Dayu. Ia selalu menasihati Kirana agar segera merencanakan keturunan dari Herlambang untuk memperkuat posisinya sebagai seorang istri. Sekalipun Inang Dayu mengetahui beberapa aset telah diatasnamakan Kirana, baginya itu belum cukup. Kirana harus lebih pintar dalam mengelola dirinya, kalau ingin masa depannya terjamin. Dan, seorang anak adalah jaminan hidup bagi keduanya.

Masa lalu yang menyakitkan sebagai pelayan di sebuah rumah bordil, membuat Inang Dayu bercita-cita tak mau hidup sengsara. Apalagi ia harus menghidupi bayi kecil bernama Kirana, anak dari keponakannya yang menjadi pelacur di rumah bordil yang sama. Sayangnya, sang keponakan mati ditikam seorang pelaut mabuk, yang tak mau membayar setelah menikmati jasa pelayanan tubuhnya.

Jadilah ia mengasuh Kirana dengan segala susah payah. Kirana disekolahkan cukup tinggi sampai diploma sekretaris. Ia juga mengawalnya untuk menjadi freelance model di Surabaya. Dengan penampilan yang nyaris sempurna, Kirana dinilai mahal oleh beberapa agen dalam memperkenalkan produk-produk tertentu. Karena itu, Inang Dayu sangat selektif dalam memilih event bagi Kirana. Ia mengamati dan mempelajari siapa klien yang akan memakai jasa Kirana. Herlambang adalah salah satu target Inang Dayu.

Ia mendorong Kirana untuk tidak melepaskan pria itu agar mereka dapat hidup dengan enak kelak. Mengabaikan kata hatinya, Kirana mengikuti saran itu, dan menjadikan dirinya Sang Dewi bagi Herlambang, yang menghambakan diri padanya. Ia menjaga diri serta penampilannya agar selalu memuaskan hati suami yang ia perah materinya. Namun, ia tidak pernah memberikan hatinya


Bersambung

Penulis: Shanty D. Rilmira
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2008

Sumber : www.femina-online.com
Yani Thamrin





Related Articles:
Kirana (Bagian 9)
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)
Kirana (Bagian 6)
Kirana (Bagian 5)
Kirana (Bagian 4)
Kirana (Bagian 3)
Kirana (Bagian 2)