This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Selendang Merah ( Bagian 1)

Monday, 01.25.2010, 12:23pm (GMT-5)


Your Ad Here

Selendang Merah (Bagian 1)

Ia menemukan selendang merah itu di dada Emak yang rapuh. Kedua tangan kurus terkulai ke sisi pembaringan, hendak menjangkaunya, namun tak sampai. Mata cekung Emak menatapnya hampa, seolah maut telah berkawan dengan Emak.

Ke mana tubuh sintal yang bergoyang di atas panggung diiringi gamelan? Ke mana jemari lentik yang lincah mengibaskan ujung selendang? Ke mana mata kejora yang melirik waspada, saat tangan-tangan jail pria berkeliaran menyelipkan uang ke dalam kemben? Ke mana suara merdu saat melagukan gending-gending Jawa? Ke mana kata-kata kenes yang mengundang senyum para pria? Ke mana semua itu, Emak?

Tangan kanan Emak mengulurkan selendang merah kepadanya. Jagalah ini sebagai kenangan, tatapan Emak seolah berucap begitu. Ia menerima selendang itu dan mendekap erat. Tercium aroma keringat seniwati yang semangat menjalani perannya. Dua mata Emak terpejam. Terdengar dengkur sedikit keras, lalu lenyap. Gending kesedihan mengalun pilu.

Saat itu ia merasakan darahnya mendidih, tangan mu­ngilnya gemetar, “Tak kubiarkan kau pergi dengan cara seperti ini, Emak….”

Jakarta, Maret 1998
Rindang menebarkan senyum, lalu membungkuk hormat pada penonton. Terdengar tepuk tangan dan suitan mengiringi langkah Rindang ke belakang panggung. Seorang pria berperawakan jangkung dan bermata lembut menyambutnya. Tio, pria muda yang dipacarinya sejak tiga bulan lalu.

Di samping Tio, Alia berdiri gelisah. Manajernya itu sedang sibuk memberi isyarat pada Rindang dengan beberapa kali mengedipkan mata.

“Jadi, aku bisa pergi dengan Tio, ‘kan?” tanya Rindang ringan, seraya memandang Alia penuh arti.

Alia mendengus, sambil mengeluarkan agenda dari dalam tasnya.

“Ini jadwalmu hari ini,” Alia menyodorkan agenda kepada Rindang, yang kemudian memeriksanya sekilas.

“Hmm... sekarang aku harus ke salon?”

“Ya,” jawab Alia pendek, sambil melirik Rindang tajam.

“Bagaimana kalau jadwal ke salon ditunda? Aku ingin pergi dengan Tio.” Rindang mengerling.

Tio tersenyum. “Benar, Lia, ayolah… beri waktu Rindang untuk kehidupan pribadinya.”

“Nah, benar kata Tio, aku butuh kehidupan pribadi.”

Mata Tio tampak bersinar penuh harap, sementara Alia bergerak-gerak gelisah. Bagaimana mungkin aku memberimu waktu untuk berbuat kejahatan, Rindang? Sedangkan aku menyayangimu….

“Boleh kan, Lia?” Tio mengajuk.

“Hmm… baiklah,” jawab Alia kaku.

Rindang dan Tio saling pandang. Tersenyum. Malam makin tinggi saat dua mobil berjalan berlawanan arah meninggalkan gedung tempat Rindang konser.

“Suaramu merdu sekali, Rindang. Sampai terngiang-ngiang di telingaku setiap malam,” kata Tio, menatap Rindang lembut.

Rindang membuang pandang dari tatapan Tio. Mereka makan malam di sebuah kafe romantis di pinggiran kota. Terletak di atas bukit, kafe itu membuat pengunjung kafe bisa melihat kerlip lampu di pusat kota. Rindang menyukai suasana romantis ini. Apalagi, jauh dari incaran wartawan infotainment. Tetapi, kata-kata yang baru diucapkan Tio membuat darah di urat nadinya mengalir lebih cepat.

Dulu sekali ia pernah mendengar seseorang mengatakan itu dengan suara berat. Persis suara Tio. Suaramu merdu sekali, sampai terngiang-ngiang di telingaku setiap malam….

Berapa lama ia ingin mengaburkan suara berat itu dari telinganya? Sepuluh tahun? Lima belas tahun? Ia tak bisa. Suara gerimis yang menyertai suara itu pun tak mau lenyap. Terngiang-ngiang di telinga Rindang. Dan malam ini, Tio mengucapkan kata-kata yang sama.

“Bagaimana kau bisa menyanyi begitu bagus?” tanya Tio lagi, mengalihkan mata Rindang kembali kepada Tio.
“Bagaimana, ya?” Rindang pura-pura berpikir. “Mungkin jawabannya sama seperti pertanyaan ini. Bagaimana kau bisa mendesain rumah dengan bagus?”

Tio mengangkat bahu. “Karena aku seorang arsitek.”

“Nah! Itu dia jawabannya. Kalau kau bertanya bagaimana aku bisa menyanyi dengan bagus, itu karena aku seorang penyanyi.”

“Pasti ada yang menurunkan bakat menyanyi padamu.”

Rindang pura-pura tak mendengar kata-kata Tio. Ia menyibukkan diri dengan menu makan malamnya. Tio tersenyum, meraih jemari Rindang dalam genggaman tangannya yang kokoh.

“Rindang, boleh aku mencintaimu sampai ajalku?”

Boleh saja. Memang itu yang kuinginkan….

Tio merasakan jemari Rindang membalas genggaman tangannya. Namun, Tio tak merasakan darah di urat nadi Rindang mendidih.

Bersambung

Penulis: S. Tary
Sumber : www.femina-online.com
Yani Thamrin





Related Articles:
Kirana (Bagian 11)
Kirana (Bagian 10)
Kirana (Bagian 9)
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)
Kirana (Bagian 6)
Kirana (Bagian 5)
Kirana (Bagian 4)