This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Selendang Merah ( Bagian 2)

Monday, 01.25.2010, 12:27pm (GMT-5)


Your Ad Here

Selendang Merah (Bagian 2)

Hangat matahari pagi menerobos masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Rindang menggeliat. Samar-samar ia mendengar langkah kaki menghampiri ranjangnya, lalu selimutnya ditarik dengan kasar. Rindang masih memejamkan mata dan berusaha kembali menarik selimutnya menutupi tubuh.

“Bangun, Rin!” suara Alia sedikit menghardik.

Rindang membuka matanya dengan malas.

“Ada jadwal ke mana saja hari ini?”

“Hari ini jadwalmu bicara empat mata denganku.”

“Benarkah? Jadwal yang bagus.”

Rindang memejamkan matanya kembali seraya memeluk guling. Alia duduk di sisi pembaringan.

“Apa yang kau lakukan semalam bersama Tio?”

Perlahan Rindang bangkit dan berjalan menuju wastafel. Terdengar aliran air keran dan Rindang mulai membasuh mukanya.

“Kenapa kau selalu ingin tahu?” Rindang balik bertanya. “Pekerjaanmu manajer artis, bukan psikiater.”

“Tapi, aku kakakmu, Rindang…,” suara Alia tertahan, menyiratkan kemarahan dan kekhawatiran mendalam.
Rindang mengelap mukanya dengan handuk, lalu berbalik. Matanya menatap Alia tajam.

Aku kakakmu. Alia…. Ya, dia memang kakakku….

Lintasan masa lalu berputar cepat dalam benak Rindang.

Alia dan dirinya tumbuh di bawah atap yang sama, meskipun darah mereka berlainan. Alia membuat Rindang merasakan nikmatnya bermanja pada seorang kakak. Alia membuat kesedihan dalam diri Rindang sedikit terkikis. Alia pula yang membuat Rindang berani mengejar mimpinya menjadi penyanyi. Bahkan, Alia rela menunda sekolahnya, karena ingin mendampingi Rindang berkarier sebagai penyanyi.

Tetapi, kasih sayang Alia terkadang berlebihan. Membuat Rindang sering merasa sesak napas.

“Aku sudah dewasa, Lia. Aku tahu apa yang kulakukan. Lagi pula, apakah aku tak boleh mengenal pria? Aku bosan dengan rutinitas jadwal yang padat itu. Wawancara, syuting iklan, nyanyi, salon!”

Alia menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuh­nya bergetar. Bibirnya bergerak-gerak hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun terucap.

“Kau tampaknya selalu sibuk setiap aku pergi kencan dengan Tio. Kenapa, sih?” tanya Rindang, melewati tempat Alia berdiri, lalu kembali berguling di tempat tidur.

“Karena… karena… aku tidak mau kau berbuat jahat. Apalagi, membalas dendam melalui Tio. Aku menyayangimu, Rindang.”

Rindang berkerut kening tak mengerti.

“Membalas dendam? Kau ini bicara apa, sih? Apa maksudmu?”

“Sudahlah! Jangan pura-pura tak tahu!”

Tiba-tiba Alia melemparkan alat perekam ke arah Rindang.

“Rekaman itu lebih dari cukup untuk membuka rahasiamu!”

Perlahan Rindang meraih alat perekam itu dan menekan sebuah tombol. Dadanya berdesir saat mendengar suaranya sendiri sedang bicara berapi-api dengan seseorang. Dari sisi pembaringan, Alia menatap Rindang tajam, seolah meminta pertanggungjawaban.

Gemawing, Maret 1985
Sore menjelang petang, ketika Emak menggandeng tanganku memasuki ruang rias. Ruangan ini sempit dan pengap, namun lampu petromaks yang tergantung di sisi atas menyala terang. Pintunya hanya ditutup dengan kain kelambu.

Di sana sudah ada lima tandak (penari) sedang merias diri. Hanya mengenakan pakaian dalam dan sibuk memoles-moles wajah mereka dengan beraneka bedak. Mereka tersenyum ramah padaku, kecuali Sulas, tandak tua yang kalah pamor dengan Emak dan selalu bersikap kurang menyenangkan.

“Makin hari kau makin cantik saja Rindang. Nanti sudah besar bisa jadi primadona tandak kita. Kau mau jadi tandak juga, Rindang?” kata seseorang yang sedang menggambar alis.

Aku tersenyum malu-malu, memegangi lengan Emak.

“Rindang tidak akan jadi tandak, tetapi mau sekolah yang tinggi,” jawab Emak, mantap.

“Sekolah tinggi? Memangnya kamu punya biaya?” sergah Sulas, sambil mencibir.

Emak tersenyum, tak terpancing kata-kata Sulas. “Kalau kita punya keinginan yang kuat, selalu saja ada jalan.”

“Alaaah… anak tandak saja mau sekolah tinggi….”

Aku tak suka mendengar Sulas bicara dengan nada sinis seperti itu. Kalau saja Emak mengizinkan, aku ingin menimpuk kepala Sulas yang mengenakan konde itu dengan batu kali. Memangnya kenapa kalau anak tandak bercita-cita sekolah tinggi? Dan, itu memang telah menjadi cita-citaku bersama Emak.

“Ayo, Rindang. ke sini Bantu Emak mengeluarkan peralatan rias,” kata Emak.

Aku segera mengeluarkan peralatan Emak dari dalam tas. Tiba-tiba mataku menangkap gerakan di balik kelambu. Banyak jari-jari menyingkap kelambu dan berpasang-pasang mata mengintip ke dalam ruang sempit pengap ini. Berpasang-pasang mata pria liar yang lapar. Aku tidak tahu untuk apa mereka melakukan itu, tetapi aku tidak suka melihat mata liar mereka.

“Emak, kenapa orang-orang itu mengintip?” tanyaku, polos.

Sulas tertawa terbahak-bahak. “Rindang… Rindang…. kamu harus tahu, Nak. Begitulah pekerjaan seorang tandak. Menjadi pemuas pria.”

“Tutup mulutmu, Sulas!” bentak Emak, marah. “Tak semua tandak berlaku seperti yang kau katakan!”

“Apa kau merasa dirimu begitu suci?” tantang Sulas. “Lalu, kenapa kau membiarkan dirimu dibawa pejabat kabupaten itu?”

“Bukan urusanmu!” jawab Emak, sengit.

Seorang tandak lain melerai mereka. “Sudah… sudah, jangan bertengkar begitu, tidak baik didengar orang.”
Aku melihat muka Emak memerah. Matanya seolah menghindar dari tatapan mataku yang bertanya-tanya. Pejabat kabupaten? Siapa dia?

Sejak Bapak meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu, Emak makin sering tanggapan. Karena, dari sanalah Emak mendapatkan uang untuk hidup. Emak sangat mencintai Bapak dan berjanji tak akan menikah lagi, setelah kepergian Bapak. Emak memang ingin menyekolahkan aku hingga sarjana, namun dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukan dari bantuan orang lain.

Tetapi, siapa pejabat kabupaten itu? Apakah Emak juga seperti Sulas? Sering dibawa pria di tengah malam dan pulang esok harinya?

“Ambilkan gincu Emak, Rindang….”

Aku tergeragap dari lamunan. Kuambilkan sebuah lipstik dan kusodorkan pada Emak. Lima tandak yang lain sudah selesai merias diri. Wajah mereka terlihat lain dari biasanya. Rambutnya disasak tinggi, lalu dipasang konde. Sekarang mereka mengenakan kain dan kemben.

Aku melihat kelambu tak lagi bergerak, karena sudah terlepas dari tempatnya. Berpuluh pasang mata pria berebut melihat ke dalam ruang sempit pengap. Mereka seperti ingin menelan para tandak itu hidup-hidup. Mulutnya mengeluarkan kata-kata tak senonoh kepada para tandak. Aku jijik melihatnya.

Kualihkan pandanganku pada Emak. Pakaiannya tetap lengkap saat merias diri, bahkan nyaris tertutup. Emak juga pindah ruangan, ketika mengganti pakaiannya dengan kain dan kemben, ia tidak membiarkan tubuhnya dilahap banyak mata yang liar itu. Emak memang pantas menjadi primadona tandak yang sesungguhnya. Persis seperti kata semua orang. Dan, aku mengaguminya.

Bersambung

Penulis: S. Tary

Sumber : www.femina-online.com


Yani Thamrin





Related Articles:
Selendang Merah ( Bagian 1)
Kirana (Bagian 11)
Kirana (Bagian 10)
Kirana (Bagian 9)
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)
Kirana (Bagian 6)
Kirana (Bagian 5)