This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Selendang Merah ( Bagian 3)

Monday, 01.25.2010, 12:31pm (GMT-5)


Your Ad Here

Selendang Merah (Bagian 3)

Gemiwang, Maret 1985
Ini hajatan besar. Juragan Jaring menikahkan anak perempuannya dan mengundang hampir semua tandak di kampungku untuk menari. Aku yang selalu menonton setiap pertunjukan tayub, tak melewatkan kesempatan ini.
Duduk di samping wiyaga yang menabuh gamelan, aku tak perlu berdesakan dengan orang-orang, di antaranya teman-teman kecilku. Kurasa ini memang pertunjukan tayub paling ramai. Penonton dari luar kampung berdatangan.

Bunyi gamelan itu terdengar harmonis. Wiyaga menabuh gong, dipadu kendang dengan irama rancak saling menjalin, memacu semangat penari tayub bergoyang tanpa lelah. Tubuh Emak yang sintal ikut bergoyang pelan, bahkan terkadang nyaris tak bergoyang.

Emak menutupi bagian dada atasnya yang terbuka dengan selendang merah kesayangannya. Menurut Emak, Bapak yang membelikan selendang merah itu sewaktu mereka pertama kali bertemu. Sesekali Emak mengibaskan selendang merah itu dengan lincah. Mata kejoranya melirik ke arahku dan aku melambaikan tangan. Kalau sudah begitu, kami akan saling tersenyum. Aku tak pernah melihat mata Emak melirik ke arah pria-pria di pinggiran panggung. Emak selalu bermain mata denganku, anaknya.

Seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai pengarih (yang membantu mengarahkan acara), mengedarkan nampan ke arah tamu undangan dan pengunjung. Beberapa orang tampak meletakkan sobekan kertas di nampan beserta uang kertas untuk bayaran walik gendhing (orang yang membantu mengubah daftar lagu). Bermacam-macam jumlahnya, antara seribu hingga sepuluh ribu.

Lalu, di saat jeda menari, Emak sebagai primadona para tandak, membacakan pesanan walik gendhing dari pengunjung. Kebanyakan pemesan ingin Emak yang nembang sekaligus menari. Tetapi, biasanya, dengan sopan Emak selalu berbagi dengan kawan-kawan tandak yang lain dan pemesan tak keberatan.

“Gendhing Asmarandana ini dipesan oleh Bapak Handoko…,” kata Emak, dengan nada tak seperti biasanya.
Aku seperti mendengar getar dalam suara Emak. Mata kejora Emak mencari Handoko ke arah deretan kursi tamu paling depan. Di sana biasanya tempat duduk orang-orang penting di kampung ini.

“Sampurnya (selendangnya), Mas. Bapak Handoko akan menari bersamaku….”

Aku mengernyit. Sejak Bapak meninggal, Emak tak pernah secara khusus mengundang pria untuk menari bersamanya. Siapa pria itu, hingga Emak mengubah kebiasaannya? Kulihat di sisi panggung yang lain, Sulas melirik cemburu dan tandak-tandak yang lain saling tersenyum.

“Monggo, Bapak Handoko…,” ajak Emak, setengah genit.

Aku tak suka mendengar suara Emak kali ini.

Pria pengarih membawa nampan berisi sampur ke arah Handoko. Tapi, Handoko menolak dengan halus. Sikapnya juga terkesan sangat sopan. Ia membisikkan sesuatu kepada pengarih, yang kemudian menyerahkan sampur itu ke pria di samping Handoko. Pria di samping Handoko mengambil sampur dalam nampan dan mengalungkan di lehernya, lalu maju ke tengah panggung. Pengarih menghampiri Emak dan membisikkan sesuatu di telinga Emak.

“Bapak Handoko tidak berkenan menari, namun hanya ingin mendengarkan gending ini. Baiklah, tembang Asmarandana ini khusus saya persembahkan kepada Bapak Handoko…,” kata Emak, masih dengan nadanya yang genit dan membuatku makin tak suka.

Wiyaga kembali menabuh gamelan. Suara Emak yang merdu terdengar serasi dengan alat musik itu. Tembang Asmarandana mengalun. Satu per satu para tandak memasuki panggung, berjajar untuk menari, kecuali Sulas yang memilih duduk diam di sisi panggung dengan muka masam.

Pria-pria yang menari berpasangan dengan para tandak juga mengambil posisi berhadapan dengan para tandak. Pria yang berpasangan dengan Emak kelihatan terlalu bersemangat menari. Matanya juga jelalatan.

“Mau kembang gula, Nduk?” seorang wiyaga menyodorkan piring berisi kembang gula padaku.

Makanan berwarna merah jambu dari parutan kasar kelapa muda yang di campur dengan gula itu memang makanan kesukaanku. Biasanya aku dan teman-teman selalu berebut kembang gula di setiap pertunjukan tayub. Kali ini aku bisa menikmatinya sendiri tanpa gangguan teman-teman.

“Ayo, ambillah! Biar ndak ngantuk.”

Aku mengambil kembang gula dan menggigitnya pelan-pelan. Rasanya berbeda dari kembang gula yang pernah kumakan. Kali ini kelapanya lebih muda dan terasa lebih enak. Mungkin karena yang punya orang kaya, jadi kembang gulanya juga lebih enak.

“Aku taruh di dekatmu ya, Nduk. Kalau mau lagi, ambil saja,” kata wiyaga itu lagi.

Saat wiyaga itu kembali ke tempatnya, aku memasukkan beberapa kembang gula ke dalam saku bajuku. Aku ingin memakannya lagi besok. Tetapi, tiba-tiba ada tangan yang menyodokku keras dari arah belakang.

Nolan, teman kecilku yang nakal, berambut jabrik dan rumahnya berhadapan dengan rumahku itu meminta kembang gula. Bagaimana ia bisa berada di dekat para wiyaga? Bukankah tak sembarang orang boleh duduk di sini? Huh, aku benci sekali padanya. Ia selalu menjailiku.

“Bagi kembang gulamu!” pintanya, memaksa.

Aku mengangkat piring kembang gula dan memberikan kepada seorang wiyaga. Nolan tak dapat menjangkau piring itu. Seorang wiyaga menjauhkan piring kembang gula dariku dan Nolan. Aku tersenyum puas.

“Tahu tidak, emakmu itu nakal!” bisiknya, mengejek.

“Tutup mulutmu! Emakku wanita baik-baik!” balasku, marah.

Aku tak suka ia mengejek emakku. Emakku wanita baik-baik. Kalau ia penari tayub, itu bukan berarti emakku bukan wanita baik-baik!

“Lihat ke sana!” kata Nolan, sambil menunjuk ke tengah panggung. “Apa bukan murahan?”

Aku melihat ke tengah panggung. Pria yang menari berpasangan dengan Emak hampir menempelkan tubuhnya ke tubuh Emak. Tetapi, Emak mencoba untuk menghindar.

Di sekeliling panggung, tampak minuman keras dalam sloki-sloki kecil beredar. Pengarih beberapa kali memberikan sloki minuman kepada pria penari pasangan Emak dan pria itu menenggaknya begitu saja hingga tandas. Lalu, tangan kanannya memegang uang ribuan dan hendak menjangkau kemben Emak. Emak menghindar mundur, namun tetap menari.

Pengaruh minuman keras dan merasa dilecehkan oleh penolakan Emak, pria itu melepas sampur-nya dan merangsek menyerang Emak. Tetapi, pengarih segera datang melerai. Pria yang mengamuk itu dibawa ke luar panggung.

“Kamu lihat, ’kan? Kemben emakmu dimasuki banyak tangan pria. Itu kan namanya murahan!” kata Nolan jabrik lagi.

Aku menampar muka Nolan sambil berteriak. “Emak tidak pernah mau menerima uang seperti itu!”

Nolan meringis kesakitan, sambil memegangi pipinya. “Awas kamu!”

Ketika Nolan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba segerombolan pemuda mabuk mengamuk dan menerjang ke tengah panggung. Mereka membanting apa saja di depannya. Suasana jadi semrawut seperti perkelahian. Para wiyaga berdiri dari tempatnya hendak meninggalkan panggung.

Aku sempat melihat seorang pria menarik-narik selendang merah yang menutupi dada atas Emak, namun Emak mempertahankan selendang itu sekuat tenaga. Aku hendak berlari ke arah Emak, ketika seseorang menabrak tubuhku dengan keras. Aku terbanting ke lantai. Sebelum duniaku gelap, aku mendengar Emak menjerit memanggil namaku.

Bersambung

Penulis: S. Tary

Sumber : www.femina-online.com
Yani Thamrin





Related Articles:
Selendang Merah ( Bagian 2)
Selendang Merah ( Bagian 1)
Kirana (Bagian 11)
Kirana (Bagian 10)
Kirana (Bagian 9)
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)
Kirana (Bagian 6)