This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Selendang Merah ( Bagian 4)

Monday, 01.25.2010, 12:34pm (GMT-5)


Your Ad Here

Selendang Merah (Bagian 4)


Jakarta, April 1998
Alia sedang membicarakan kontrak iklan terbaru di sebuah kafe, ketika Rindang pamit ke toilet. Setelah memberi kode pada pengawalnya untuk membiarkannya sendiri, Rindang menyelinap lewat pintu samping kafe dan berjalan cepat meninggalkan kafe. Rindang segera menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya.

“Lima belas menit lagi aku sampai!” kata Rindang, seraya bergegas menghampiri pemesanan taksi di sisi kiri pintu mal.

Tak lama, taksi datang dan melesat meninggalkan halaman mal. Benar kata Rindang, tepat lima belas menit kemudian taksi memasuki halaman sebuah rumah mewah. Rindang turun dan seorang pria bertubuh kekar menyambutnya di muka pintu. Mulutnya tampak menyeringai.

“Kau makin cantik, Rindang! Seperti emakmu!” kata pria itu.

“Kami sama-sama cantik, dan sama-sama bukan wanita murahan!” jawab Rindang.

Pria kekar itu, Nolan, tertawa. Rindang tak membalas tawanya. Setelah masa kecil penuh permusuhan mereka lewati, setahun lalu Rindang bertemu Nolan di sebuah mal. Nolan telah lima tahun menempuh kehidupan yang keras di Jakarta.

“Ah, kau masih sakit hati rupanya. Lupakan itu, Rindang!”

Rindang memandang mata pria itu tajam. “Aku akan melupakan ejekanmu itu kalau kau berhasil membantuku. Tentu saja akan kubayar.”

“Oke, kita bicarakan di dalam. Kau dapat memilih cara apa saja yang kau inginkan.”

Nolan menjajari langkah Rindang masuk ke dalam. Mereka memasuki ruangan dan mengunci pintu. Pembicaraan empat mata.

Alia berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Kepalanya langsung menoleh ke samping, begitu mendengar suara pintu terbuka. Rindang memasuki ruang tengah dengan langkah gontai tanpa memedulikan Alia yang memandangnya tajam.

“Dari mana?” tanya Alia, seperti bentakan.

Rindang berhenti tepat di depan Alia. “Itu urusanku!”

“Begitu, ya? Aku sudah repot-repot mengurusi kontrak besarmu, kamu malah keluyuran tanpa pengawal! Kau pikir aku tidak khawatir? Kamu bukan orang biasa, Rindang! Kamu bintang! Kamu harus pergi ke mana pun dengan pengawal!”

“Kupikir tidak harus begitu. Toh, aku bisa kembali dengan selamat, ‘kan?” sergah Rindang, tak mau kalah. “Tapi, alasanmu sebenarnya melarang aku pergi bukan itu, ‘kan? Kamu takut aku berkencan dengan Tio?”

Alia mendengus, lalu membuang muka. Tiba-tiba tangan Alia terjulur menyambar tas Rindang.

“ Apa-apaan ini Alia? Lepaskan tasku!” teriak Rindang.

Mereka saling menarik tas tangan hitam itu seperti atlet tarik tambang, yang menge­rahkan segenap kekuatannya.

“Alia! Lepaskan tasku!” teriak Rindang.

Alia membentak. “Aku tak akan melepaskan tasmu. Lagi pula, kalau kau tak menyimpan rahasia, buat apa kau menahan tasmu?”

Mereka saling menarik lagi. Kali ini lebih kuat hingga jahitan tas itu merenggang. Karena kehabisan tenaga, Alia sengaja membuka ritsluiting tas lalu membalikkan isinya. Seketika isi tas terburai. Notes kecil, bolpoin, alat-alat make up, dua ponsel, dan… mata Alia membelalak!

Alia melepaskan tarikan tasnya, lalu tangannya sigap mengambil jarum suntik yang terjatuh dari dalam tas. “Ini yang kucari!”

“Jangan Alia! Jangan kau ambil!”

“Untuk apa jarum suntik ini?” tanya Alia, mengamati jarum suntik di tangannya. Rindang terdiam beku.

“Aku… aku… menggunakan narkoba.”

“Tidak mungkin!” jawab Alia. “Bukan itu gunanya jarum suntikmu ini! Aku kenal kau, Rindang. Kau tak akan menggunakan jarum suntik ini untuk menyuntik tubuhmu sendiri, bukan? Kau artis profesional dan menyayangi kariermu.”

Rindang berjalan ke kursi, lalu mengempaskan tubuhnya di sana. Alia mengikutinya dengan jarum suntik masih di tangan.

“Aku sudah bilang padamu, Rindang. Aku tak akan membiarkan kau melakukan kejahatan. Sorry, aku akan menghancurkan jarum ini.”

“Terserah kau!” Rindang berjalan ke kamarnya tanpa menoleh lagi.

Alia hanya geleng-geleng kepala.

Malam baru saja melewati titik nadir. Rindang berbaring gelisah di pinggir pembaringan kamarnya. Pikirannya berputar-putar. Bagaimana mendapatkan jarum itu lagi? Alia benar-benar sialan! Dia tahu apa pun yang kulakukan! Seharusnya dia membantuku, bukan malah menghalangiku!

Rindang bangkit dari pembaringan dan berjalan menuju lemari di pojok kamar. Ia membuka lemari dan mengambil selendang merah dari sebuah tumpukan. Mengamati sejenak, lalu membawa ke tempat tidur.

Rindang mendekap selendang merah itu sejenak, menciumnya. Tak lagi tersisa aroma keringat emaknya di selendang itu, namun aroma itu masih tertinggal di kepalanya. Dan itu membuat darahnya kembali mendidih. Rindang mendengus.

“Tak kubiarkan kau pergi dengan cara seperti itu, Emak… tak akan kubiarkan!” bisik Rindang, penuh dendam.
Ia meletakkan selendang merah tepat di depan foto emaknya. Setelah membelai sejenak wajah emaknya dalam foto, Rindang menyambar ponsel di meja rias. Kemudian jemarinya sibuk mencari sebuah nomor.

“Halo? Nolan? Bisa kau kirim barang yang sama seperti tadi? Aku akan membayar ulang. Jangan sampai ada mata kelima yang tahu tentang ini. Oke, aku percaya padamu. Aku tunggu!”

Rindang menutup telepon genggamnya, sambil tersenyum menang. Apa yang bisa dilakukan Alia untuk menghalangiku sekarang? Aku punya banyak cara.

Alia jatuh sakit. Demam berdarah membuat kondisi HB-nya terus turun dan harus istirahat total. Rindang sedikit merasa bersalah atas perasaan sukacitanya. Ia menyayangi Alia dan tak ingin kehilangan Alia. Tapi, ia juga sangat menyayangi almarhum emaknya dan tak pernah memaafkan apa yang pernah terjadi. Kesempatan tak akan datang dua kali! Inilah waktunya!

“Hati-hati Rindang, jangan menghancurkan dirimu sendiri,” bisik Alia pada Rindang. Rindang tersenyum. Tidak mengangguk, tidak juga menggeleng.

“Jangan khawatir, Alia. Kau pikirkan dirimu sendiri saja, agar cepat sembuh. Percayalah, semua akan baik-baik saja.”

Semua akan baik-baik saja. Dada Alia bergetar, ketika Rindang meninggalkan pintu bangsal rumah sakit tempat ia dirawat.

Benarkah semua akan baik-baik saja? Benarkah Rindang akan menuruti kata-katanya?

Ketakutan Alia mendapatkan jawabannya.

Di halaman rumah sakit, Tio tengah menunggu Rindang. Tio membukakan pintu mobil dan Rindang masuk dengan wajah cerah. Tak lama mobil mereka melesat meninggalkan halaman rumah sakit menuju pinggiran kota. Rindang tersenyum. Benarkah kesempatan tak akan datang dua kali?

Bersambung

Penulis: S. Tary

Sumber : www.femina-online.com

Yani Thamrin





Related Articles:
Selendang Merah ( Bagian 3)
Selendang Merah ( Bagian 2)
Selendang Merah ( Bagian 1)
Kirana (Bagian 11)
Kirana (Bagian 10)
Kirana (Bagian 9)
Kirana (Bagian 8)
Kirana (Bagian 7)