This Girl's Ass Shake will Make Your Jaws Drop ; Hottest Fitness Instructor - Eva Andressa ; U-S-A ... U-S-A ... U-S-oooooh ; Awas Uang Koin Palsu, Cocok-kan dulu koin-mu Dengan Gambar ini ; GIF - Dancer Embarassed Of Her Pussy
::| Keyword:       [Advance Search]
 
  Light Stories  

RSS
.

Selendang Merah ( Bagian 8)

Monday, 01.25.2010, 12:48pm (GMT-5)


Your Ad Here

Selendang Merah (Bagian 8)

Gemawing, Agustus 1987
Emak makin aneh. Tak lagi menari tayup dan sering bepergian entah ke mana. Sepertinya Emak juga memiliki banyak uang karena tak pernah menunda setiap aku minta uang untuk membeli buku. Setiap kali ada polisi datang ke rumah mencari Handoko, Emak akan ikut polisi itu entah ke mana. Emak baru pulang ke rumah esok harinya dalam keadaan letih. Itu berlangsung setahun lalu.

Sekarang Emak sering sakit-sakitan dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Makin lama badannya makin kurus. Petugas kesehatan tak mengatakan dengan jelas apa penyakit Emak. Aku jadi bingung dengan keadaan Emak. Aku rindu Emak menjadi primadona tandak seperti dulu. Aku rindu Emak menari dan nembang seperti dulu, tetapi Emak tak pernah mau melakukannya.

Dalam keadaan seperti itu ada keajaiban kecil yang membahagiakan, yaitu pertemuanku dengan Alia. Sekarang aku memiliki teman baik sekaligus kakak yang baik. Alia lima tahun lebih tua dariku dan tinggal di rumah neneknya. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan Alia tak punya saudara. Nenek Alia orang terkaya di kampung dan sangat dermawan. Aku dan Alia juga sama-sama memusuhi Nolan. Aku merasa sedikit punya kegembiraan, meskipun kehilangan Emak.

Suatu siang, saat sedang bermain bersama Alia di halaman rumah Nenek, Nolan memanggil-manggilku dari ujung jalan. Awalnya aku tak menggubris panggilan itu.

“Rindang! Rindang! Pulanglah! Emakmu sakit keras!”

Aku mengeryitkan dahi. “Apa dia membohongiku, Alia?”

“Bagaimana kalau kita ke rumahmu. Nanti kalau dia bohong, kita akan menghajarnya.”

Kami bergegas ke rumahku. Nolan tak bohong. Banyak orang sedang berkerumun di rumahku, menunggui Emak yang terbaring lemah di pembaringan. Mata Emak hampir terpejam, namun membuka begitu melihat kedatanganku. Di atas dadanya yang kurus tergeletak selendang merah pemberian Bapak. Emak mengulurkan selendang itu kepadaku, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Aku memeluk Emak, seperti baru sadar bahwa Emak telah meninggalkanku selama-lamanya. Alia menarik tubuhku dan memelukku. Dunia dalam mataku menjadi begitu gelap.

Aku melewati masa remaja dalam kemurungan. Nenek Alia mengajakku tinggal bersamanya. Ia menanggung seluruh biaya hidupku dan sekolahku. Bahkan, nenek Alia berjanji akan menyekolahkanku sampai sarjana. Namun, aku lebih tertarik pada hal lain. Darah seni Emak mengalir dalam nadiku. Aku suka menyanyi dan ingin menekuni bidang itu.

Kepergian Emak juga menyisakan kesedihan yang tak kunjung hilang. Desas-dasus warga kampung mengatakan, Emak meninggal karena menderita AIDS. Aku mencari tahu dari buku-buku yang dimiliki Alia. AIDS adalah penyakit yang menyerang kekebalan tubuh seseorang dan tak ada obatnya. Salah satu penyebabnya adalah berhubungan bebas dengan banyak lawan jenis tanpa pengaman.

Belum tentu benar Emak menderita AIDS. Karena, menurut buku Alia, gejala penyakit ini baru muncul setelah penderitanya tertular virus HIV dalam jangka waktu lama, lebih dari 10 tahun. Meski begitu, dendam sudah tumbuh di sisi hatiku. Mengakar seperti akar liar yang membelit setelah otakku bisa mencerna banyak hal yang menimpa emakku.

Peredaran minuman keras dan narkoba di kampung ini didalangi oleh Handoko, kemudian melibatkan Emak yang mencintainya. Handoko selalu menjual tubuh Emak kepada petugas untuk membebaskannya dari penjara. Sampai kemudian penyakit menggerogoti tubuh Emak. Entah dari pria mana Emak tertular penyakit itu. Sejak kematian Emak, Handoko menghilang tak tahu rimbanya.

“Kita akan pindah ke Jakarta, Rin! Kau bisa mengembangkan bakatmu menyanyi dan aku akan terus sekolah!” kata Alia suatu malam, dengan ceria.

Seorang putra Nenek ingin memboyong Nenek ke Jakarta. Berita itu kedengarannya menarik, aku juga menyambutnya dengan gembira. Memang berat meninggalkan kampung indah ini dengan semua kenangannya. Aku membawa selendang merah Emak sebagai pengingat bahwa di kota mana pun aku akan mencari cara untuk membalas dendamku kepada Handoko itu.

“Tak akan kubiarkan Emak pergi dengan cara seperti itu…”

Jakarta, September 1994
Bayanganku tentang kota besar bernama Jakarta tak sepenuhnya benar. Bersyukur aku menemukan banyak orang baik yang kemudian mendorong bakatku menyanyi. Aku sekolah pada pagi hari dan les vokal sore hari. Alia yang selalu sibuk dengan aktivitas sekolahnya selalu berada di sampingku untuk mendorong dan menemani.

Sampai kemudian, lewat salah seorang paman Alia, aku mendapatkan jalan ke sebuah perusahaan rekaman. Aku berhasil membuat sebuah album dan mulailah karierku sebagi penyanyi. Album pertama itu meledak di pasaran dan melambungkan namaku sebagai penyanyi baru di industri musik Indonesia. Seperti Emak, aku telah menjadi primadona yang dielu-elukan.

“Aku menunda kuliahku ke luar negeri, Rin. Aku ingin mendampingimu, menjadi manajermu,” kata Alia, melihat kesibukanku menumpuk.

“Alia, kau sudah banyak berkorban untukku. Aku tak mau, gara-gara aku, masa depanmu berantakan,” jawabku.
Alia menggeleng. “Tidak, Rin, aku akan menyesal kalau terjadi sesuatu denganmu.”

“Terima kasih, Alia….”

Mulailah Alia menjadi manajerku. Kami pindah ke sebuah apartemen dan aku menjalani hidupku di dunia yang baru. Banyak hal menyenangkan menjadi seorang primadona, namun banyak pula hal-hal yang membosankan. Alia selalu berada di sampingku untuk mendorongku. Selama itu pula, aku tetap mengelus selendang merah Emak sebelum tidur, berjanji mencari pria itu untuk menamatkan dendamku.

Sampai kemudian aku bertemu Nolan yang telah menjelma menjadi bandit besar di tengah Jakarta. Ia membantuku mencari informasi tentang Handoko. Bukankah semuanya harus terbayar?

Gemawing, Maret 2009
Mata Rindang masih basah saat melangkah keluar pemakaman. Ia tak rela Emak pergi dengan cara seperti itu. Tetapi, bukankah manusia tak berhak menghukum sesamanya? Dendam hanya akan lunas dengan hati yang ikhlas dan tabah menerima musibah. Bukan dengan cara membalasnya. Alia merangkul pundak Rindang. Mereka menyusuri jalan setapak menuju pantai.

Kampung Gemawing belum banyak berubah. Kecuali bangunan-bangunan tembok yang menggantikan rumah berdinding gedhek (anyaman bambu). Lautnya juga masih bersih dan biru. Alia membiarkan Rindang berlama-lama berdiri menatap laut. Mungkin, dengan begitu kesedihan Rindang sedikit terobati.

Samar-samar Rindang mendengar suara gamelan dari kejauhan. Rindang bergegas menghampiri Alia dengan antusias dan menggoyang-goyang tubuhnya.

“Kau dengar suara gamelan?” tanya Rindang.

Alia menyibak rambutnya, menajamkan pendengarannya.

“Ya, aku dengar. Dari arah sana!”

“Itu tayuban, Alia! Tayuban!”

“Entahlah. Memangnya kenapa?”

“Aku ingin menari dan menjadi tandak semalam saja.”

“Kau gila!” bantah Alia. “Memangnya kau bisa?”

Rindang berlari ke arah datangnya suara gamelan.

Alia me­nyusulnya.

“Lihat saja! Aku akan menjadi tandak malam ini! Mengenakan selendang merah milik Emak dan menjadi primadona!” teriak Rindang senang.

“Rindang… tunggu…!”

Rindang tertawa-tawa, terus berlari meninggalkan Alia.


Tamat

Penulis: S. Tary

Sumber : www.femina-online.com
Yani Thamrin





Related Articles:
Selendang Merah ( Bagian 7)
Selendang Merah ( Bagian 6)
Selendang Merah ( Bagian 5)
Selendang Merah ( Bagian 4)
Selendang Merah ( Bagian 3)
Selendang Merah ( Bagian 2)
Selendang Merah ( Bagian 1)
Kirana (Bagian 11)